every word, every move, every expression has its own meaning. here I'm noting it.

Saturday, October 1, 2011

tentang bahasa.

lanjut lagi...
sekarang mari kita ngobrol tentang bahasa.
Bahasa Indonesia dulu deh.

Saya kadang-kadang suka bertanya-tanya, kenapa bahasa Indonesia bisa tidak begitu disukai oleh bangsanya sendiri? Maksud saya, contoh paling sederhana adalah dalam pelajaran di kelas, baik dari tingkat SD sampai kuliah sekalipun. Bahkan nilai ujian nasional bahasa Indonesia bisa lebih jelek dari bahasa Inggris atau matematika. Tidakkah itu aneh?

Hal yang bisa dibilang sejenis juga pernah terjadi ketika saya di Amerika. Saya ketika itu sedang berkumpul bersama saudara sepupu saya yang kelahiran di sana, yang artinya mereka orang Indonesia berwarga negara USA, dan hanya bisa berbicara bahasa Inggris. Entah waktu itu apa pembicaraan yang sedang terjadi di antara kami, yang pasti saya ingat adalah saya tidak sengaja nyeletuk bahwa saya suka bahasa Inggris. Mereka tertawa dan bertanya pada saya, "You like English?" ekspresi mereka menyiratkan bahwa entah-mengapa-bisa-ada-orang-yang-suka-English-amit-amit-banget-deh.

Bukankan itu bisa dikatakan serupa dengan anak-anak Indonesia? Bisa berbicara bahasa asing jauh lebih terlihat keren dibandingkan bahasa Indonesia.

Saya sendiri suka belajar bahasa asing, tapi bukan berarti saya tidak suka bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia itu keren! Bagaimana lagi bisa membuat kalimat puisi berima yang enak di dengar selain menggunakan bahasa Indonesia?


Bahasa itu adalah pengungkapan jiwa. Bahasa itu eskpresi, yang jika bisa digunakan dengan tepat dan dengan maksud yang benar, akan menjadi sesuatu yang sangat indah. Bahkan mempesona, bisa menggerakkan serta menginspirasi ribuan orang.

Saya tahu tidak semua orang menganggap pelajaran bahasa Indonesia itu menyusahkan selama di sekolah. Ini hanya sekedar pendapat dan pengamatan yang saya tangkap selama sekian tahun hidup saya.


Banggalah menggunakan bahasa Indonesia. Sama seperti orang Prancis dan Rusia yang bangga pada bahasa ibu mereka.

Karya-karya sastra Indonesia itu keren-keren, tidak kalah dengan karya sastra luar.
Semoga suatu saat karya saya juga bisa membuat negara ini bangga :D


tentang menulis.

Selamat... sore kawan-kawan sekalian.
Sudah bulan Oktober, dan ternyata jika dilihat dari jumlah posting di blog, bulan lalu hanya berjumlah sebiji.
Sebiji! Menyedihkan sekali, memang. 
Bulan September selalu penuh dengan kejutan. Kejutan kali ini datangnya dari kampus, yaitu tugas-tugasnya yang begitu berlimpah ruah, gemah ripah loh jinawi; menyebabkan terjadinya sedikit keruwetan yang memaksa saya untuk berkonsentrasi sepenuhnya pada dunia kuliah.

Hari ini kita ngobrol apa ya...

Sepertinya dewasa ini menulis menjadi sebuah tren, jika dilihat dari banyaknya orang yang mulai menulis di blog atau jurnal online, atau bahkan menulis di notes, salah satu fitur di facebook. Sebenarnya twitter pun bisa dinamakan mini-blog, karena di sana orang-orang menulis, atau istilah bahasa Inggrisnya, tweeting kegiatan mereka sebanyak yang mereka inginkan di sana, bahkan twitter atau facebook atau jejaring sosial apapun sudah dianggap seperti diari virtual. Setiap menit, setiap detik, selalu, update status. Stasiun berita maupun koran sudah memiliki twitter mereka sendiri, dan penyampian berita cenderung lebih cepat melalui jalur internet. Indonesia sendiri sudah termasuk tiga besar negara di dunia yang paling banyak menggunakan jejaring sosial. Hal apa yang tercermin dari fenomena ini?

Sederhananya menurut saya, orang Indonesia itu gampang terpengaruh. Suka mengikuti tren, pokoknya biar terlihat eksis (atau istilah anak mudanya, gaul). Mungkin terdengar ofensif, tapi menurut saya memang begitulah adanya. Entah dari urusan fashion, budaya, gaya hidup, atau apapun, pengaruh-pengaruh luar begitu cepat masuk dan berkembang di negara ini. 

Apakah saya sendiri terpengaruh? Well, you might say that :p

Nah, sekarang mari bersambung pada karya-karya sastra di Indonesia.
Ada satu akun di twitter yang bernama nulisbuku, itu adalah layanan self-publishing book pertama di Indonesia, dan yang mengagetkan saya pertama kali membacanya adalah: gratis. Saya kira pertamanya cuma bercanda, tapi ternyata sungguhan, gratis.
Dilihat dari jumlah follower yang ada, dan kegiatan-kegiatan yang di-tweet-kan, sepertinya makin banyak anak-anak Indonesia yang senang menulis dan sangat giat hingga nantinya bisa menerbitkan bukunya sendiri. Itu baru menurut saya sebuah tren yang positif. Bukankah dengan ini peran bahasa semakin meningkat? Penulis-penulis itu tentu akan mempelajari ragam bahasa Indonesia yang nantinya akan digunakan untuk menulis cerita. Mereka juga rajin mengadakan kegiatan menulis bareng, itu berarti menyebarkan virus menulis!

Saya sendiri suka menulis. Sangat suka. Jika ditinjau kembali, saya mulai menulis cerita yang 'enak dibaca' secara alur dan gramatika bahasanya adalah ketika saya berusia dua belas tahun. Itu akibat saya membaca sebuah cerita pendek buatan kawan saya, dan saya sedikit terintimidasi. Pikir saya kala itu, jika dia bisa membuat, masa saya sendiri tidak bisa?

Menulis itu seperti mendapat dunia baru, membuka pikiran dan wawasan. Kadang kala ketika saya merasa saya tidak bisa menulis, atau pada masa-masa ketika saya merasa tulisan saya seolah-olah tidak bernyawa, saya merasa depresi. Sederhananya mungkin, menulis sendiri adalah hidup.

Jadi dari perbincangan sore ini...
kesimpulannya adalah...
mari kembangkan tren positif dari diri kita sendiri. Mulai dari hal-hal kecil sederhana.

Pasti selalu akan ada satu hal yang hanya kita yang bisa melakukannya bagi seseorang, sesuatu, atau sesama.

Semoga bulan Oktober ini menyenangkan!