every word, every move, every expression has its own meaning. here I'm noting it.

Saturday, October 1, 2011

tentang menulis.

Selamat... sore kawan-kawan sekalian.
Sudah bulan Oktober, dan ternyata jika dilihat dari jumlah posting di blog, bulan lalu hanya berjumlah sebiji.
Sebiji! Menyedihkan sekali, memang. 
Bulan September selalu penuh dengan kejutan. Kejutan kali ini datangnya dari kampus, yaitu tugas-tugasnya yang begitu berlimpah ruah, gemah ripah loh jinawi; menyebabkan terjadinya sedikit keruwetan yang memaksa saya untuk berkonsentrasi sepenuhnya pada dunia kuliah.

Hari ini kita ngobrol apa ya...

Sepertinya dewasa ini menulis menjadi sebuah tren, jika dilihat dari banyaknya orang yang mulai menulis di blog atau jurnal online, atau bahkan menulis di notes, salah satu fitur di facebook. Sebenarnya twitter pun bisa dinamakan mini-blog, karena di sana orang-orang menulis, atau istilah bahasa Inggrisnya, tweeting kegiatan mereka sebanyak yang mereka inginkan di sana, bahkan twitter atau facebook atau jejaring sosial apapun sudah dianggap seperti diari virtual. Setiap menit, setiap detik, selalu, update status. Stasiun berita maupun koran sudah memiliki twitter mereka sendiri, dan penyampian berita cenderung lebih cepat melalui jalur internet. Indonesia sendiri sudah termasuk tiga besar negara di dunia yang paling banyak menggunakan jejaring sosial. Hal apa yang tercermin dari fenomena ini?

Sederhananya menurut saya, orang Indonesia itu gampang terpengaruh. Suka mengikuti tren, pokoknya biar terlihat eksis (atau istilah anak mudanya, gaul). Mungkin terdengar ofensif, tapi menurut saya memang begitulah adanya. Entah dari urusan fashion, budaya, gaya hidup, atau apapun, pengaruh-pengaruh luar begitu cepat masuk dan berkembang di negara ini. 

Apakah saya sendiri terpengaruh? Well, you might say that :p

Nah, sekarang mari bersambung pada karya-karya sastra di Indonesia.
Ada satu akun di twitter yang bernama nulisbuku, itu adalah layanan self-publishing book pertama di Indonesia, dan yang mengagetkan saya pertama kali membacanya adalah: gratis. Saya kira pertamanya cuma bercanda, tapi ternyata sungguhan, gratis.
Dilihat dari jumlah follower yang ada, dan kegiatan-kegiatan yang di-tweet-kan, sepertinya makin banyak anak-anak Indonesia yang senang menulis dan sangat giat hingga nantinya bisa menerbitkan bukunya sendiri. Itu baru menurut saya sebuah tren yang positif. Bukankah dengan ini peran bahasa semakin meningkat? Penulis-penulis itu tentu akan mempelajari ragam bahasa Indonesia yang nantinya akan digunakan untuk menulis cerita. Mereka juga rajin mengadakan kegiatan menulis bareng, itu berarti menyebarkan virus menulis!

Saya sendiri suka menulis. Sangat suka. Jika ditinjau kembali, saya mulai menulis cerita yang 'enak dibaca' secara alur dan gramatika bahasanya adalah ketika saya berusia dua belas tahun. Itu akibat saya membaca sebuah cerita pendek buatan kawan saya, dan saya sedikit terintimidasi. Pikir saya kala itu, jika dia bisa membuat, masa saya sendiri tidak bisa?

Menulis itu seperti mendapat dunia baru, membuka pikiran dan wawasan. Kadang kala ketika saya merasa saya tidak bisa menulis, atau pada masa-masa ketika saya merasa tulisan saya seolah-olah tidak bernyawa, saya merasa depresi. Sederhananya mungkin, menulis sendiri adalah hidup.

Jadi dari perbincangan sore ini...
kesimpulannya adalah...
mari kembangkan tren positif dari diri kita sendiri. Mulai dari hal-hal kecil sederhana.

Pasti selalu akan ada satu hal yang hanya kita yang bisa melakukannya bagi seseorang, sesuatu, atau sesama.

Semoga bulan Oktober ini menyenangkan!

1 comment:

  1. i agree with that! "menulis adalah hidup" karena hidup ga akan selalu menyenangkan, ga selalu memiliki akhir yg indah, dan terkadang mengecewakan. Aku jg ga jarang ngerasa gitu rin, tiap aku menulis cerita, dan menemukan cerita itu kurang sana sini, atau penjiwaannya yg ga dapet, rasanya depresi, stress, galau! haha.. okay Erin! teruslah berkarya! im ur biggest fans! :*

    ReplyDelete