every word, every move, every expression has its own meaning. here I'm noting it.

Thursday, December 1, 2011

Change

it is December already! wow, it feels as if I was just having my last Christmas party with my family yet now we are in December again. New Year is about to come, fellas. What have you done in this year?

Well, let's not talk about that now because it's still too early. 

So...
*switch to my mother tongue*
*I still couldn't express my feeling very well in English*
*pathetic, aren't I?*

Jadi sebenarnya...
Aku tidak tahu mau bicara apa. 
Aku tidak tahu persisnya ingin membicarakan apa.
Sekarang ceritanya aku sedang sakit. Yah, sakit pada umumnya lah, batuk dan pilek yang tidak kunjung sembuh, padahal sudah pergi berobat ke dokter. Dua hari yang lalu. Yeah, aku tahu kalau kesembuhan itu datangnya bertahap, tidak mungkin secara instan, tapi entah mengapa rasanya ingus yang terus-terusan keluar seperti air terjun Niagara ini rasanya mengganggu sekali (agak berlebihan, tapi terima-terima sajalah). Itu tong sampah yang ada di pojokan kamar penuh terisi hanya oleh tisu-tisu kotor beringus. Menyedihkan sekali. Lagipula, kalau sedang sakit begini, kecenderungan untuk merasa depresi itu besar. Merasa terisolasi, tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh begini, tidak boleh begitu, tidak boleh semua-muanya. Singkatnya, yang sedang terjadi pada saat ini adalah, sang penulis sedang merasa galau.

Baiklah, kita lihat judul apa yang dipilih si penulis...
Ah, change. Change adalah bahasa Inggris yang memiliki arti berubah. Jika ditambah akhiran -ing --> changing artinya menjadi sedang berubah. Jika ditambah akhiran -ed --> changed artinya berubah dalam konteks pasif atau lampau, tergantung kalimatnya. Dan kenapa aku membahas ini? 
Oke, baiklah, change. Berubah.
Semua hal berubah di dunia ini. Tidak ada sesuatu benda apapun, baik itu benda mati maupun hidup yang tidak berubah. Apalagi manusia, ya jelas pasti selalu berubah. Kalau ada kalimat yang berbunyi, "Kenapa sekarang kamu berubah?" yang biasa dilontarkan ketika sedang bertengkar dengan kekasih, sebenarnya itu terdengar sedikit aneh. Kenapa? Karena manusia itu berubah. Tidak percaya? Hal seperti apa yang bisa membuat orang jadi percaya jika orang itu sendiri tidak mau memilih untuk percaya? Simpelnya, yang dibutuhkan adalah bukti. Contoh yang paling sederhana, orang setelah mengalami sebuah pembicaraan mendalam bersama orang lain, dan membahas sesuatu dengan begitu mendalam pula, sudah barang tentu ketika mereka berpisah, sistem kerja berpikir mereka akan berubah.
Simpel kan?

Jika dikatakan semua berubah...
Maka perasaan pun bisa berubah.
Jujur saja, untuk mencapai bagian perasaan yang berubah ini, preambule-nya panjang juga ya. Dan gaya bahasa yang dipakai penulis sore ini sepertinya baku dan serius sekali, tidak ada kesan santainya. Tapi ya sudahlah.

Kembali ke topik.
Perasaan yang berubah.
Pernah menyukai seseorang secara diam-diam? 
Oh pasti, jelas, tentu saja, semua orang pernah.
Mana ada orang yang tidak pernah? Itu munafik, semunafik-munafiknya kalau ada yang berani bilang begitu!
Bagaimana rasanya menyukai orang secara diam-diam?
Sesak?
Capek?
Menderita?
Letih?
Berharap semestinya tidak usah saja menyukai dia tapi entah kenapa pikiran malah semakin tidak beralih?
Atau justru bahagia?

Yang menjawab bahagia, itu kemungkinan cuma dua. Baru merasakan atau memang lebih suka menyimpan sendiri perasaannya, lebih suka melihat saja dari jauh, bahagia melihat orang yang disukai bahagia.

Masih ada ya orang yang seperti itu?

Awalnya mungkin seru. Terasa seperti menyimpan kuncup bunga yang diyakini akan mekar oleh pupuk cinta yang tiap hari diberikan. Namun, di satu titik tertentu, mungkin saja perasaan itu tidak akan sama lagi. Yang tersisa hanya keletihan. Pertanyaan. Mengapa bisa suka? Mengapa harus dia? Mengapa tidak orang lain saja? Dan sederet lagi mengapa-mengapa yang lain, yang mungkin tidak akan habis jika ditulis satu per satu. Namun anehnya manusia, biarpun dia mengeluhkan mengapa bisa begini-begitu, dia tidak bisa berpaling. Dia akan tetap menyukai orang itu. Batas waktu terikatnya bervariasi tergantung masing-masing orang, tapi yang pasti, untuk bisa lepas itu butuh waktu. Lain cerita jika perasaannya memang kuat, mau diapakan, mau disakiti beribu kali, tetap saja perasaannya sama. Itu disebut apa? Cinta buta? Atau justru cinta sepenuh hati? Perasaan cinta yang tulus yang saking tulusnya, sampai rela dilukai berulang-ulang...
Batas antara kegilaan dan ketulusan begitu tipis, dan kadang kala, logika manusia pasti akan berkata bahwa itu adalah cinta buta, walaupun Tuhan bisa berkata sebaliknya. 

Cinta bekerja di level yang sangat misterius, yang tidak bisa dipahami dengan logika manusia. Perang karena cinta. Bunuh-bunuhan karena cinta. Cinta itu bukan sesuatu yang absurd. Bukan sesuatu yang rumit. Ia ada, karena dialah cinta.
Cinta itu esensi kehidupan. Bilamana dia berkembang ke arah buruk, cinta itu sudah tidak lagi dilandasi hakikat murninya yang berupa kasih. Cinta itu sudah ternodai oleh emosi buruk dari umat manusia, yang diciptakan oleh masing-masing semesta pikiran sempit yang berbeda-beda.

Cinta itu Tuhan. Tuhan itu cinta. 

Cinta itu kasih.

Kalau ada yang bertanya seperti apa itu cinta, cinta itu adalah seperti hidup yang sudah dianugerahkan Tuhan untuk kita. Kita ini hidup, bukankah itu anugerah cinta yang luar biasa?





Oke, entah mengapa jadi melantur begini...

Ehem.

Perasaan yang berubah. Menyukai diam-diam.
Menyukai orang secara diam-diam, merindukannya secara diam-diam itu... melelahkan.
Di usia ini, menyimpan perasaan semacam ini terdengar begitu konyol dan absurd, tidak seperti di masa-masa remaja di mana menyimpan perasaan seperti ini terasa begitu... wajar.

Ataukah sekarang sistemku telah berubah begitu sinis?

Perasaan ini bahkan tidak jelas.

Seandainya membaca isi hati sendiri itu semudah membaca isi hati orang lain...

Atau mungkin, sesungguhnya jawabannya sudah ada. Hanya saja, ada faktor-faktor tertentu yang masih belum mau mengakuinya.

Perasaan yang berubah dan naik-turun itu... sangat labil.


Sebagai penutup dari tulisan sore ini yang sangat tidak jelas ke mana arah pembicaraannya, akan kutulis sebuah kutipan yang kudapat entah dari mana, dua tahun yang lalu:

Don't find love, let love find you. That's why it is called falling in love, because you don't force yourself to fall. You just fall.



atas nama cinta,



Erinda Moniaga


December 1 2011


*uhuk, entah kenapa terasa begitu... konyol, hahahaha



No comments:

Post a Comment