every word, every move, every expression has its own meaning. here I'm noting it.

Wednesday, February 15, 2012

tentang sesuatu yang disebut galau

Satu pertanyaan yang beberapa kali ditanyakan dari kemarin hingga hari ini, "Valentine-nya gimana?"
Oh, well...
Itu pertanyaan sebenarnya hanya pertanyaan biasa, tidak ada maksud intimidasi atau apa. Dengan datar aku menjawab, "Ah, gak gimana-mana. Cuma nonton film aja di rumah."
Hari Valentine sudah semakin dianggap budaya di sebagian besar kota di Indonesia, dirayakan semacam hari Natal atau Tahun Baru. Antara teman-temanku di Denpasar, Bali, bahkan menyebut tanggal 13 Febuari sebagai 'penampahan' Valentine, sementara tanggal 15 sebagai 'manis' Valentine. Itu istilah yang biasa digunakan dalam hari raya Galungan dan Kuningan. 
Efek Valentine kepada kondisi kejiwaan (beberapa tipe) orang ternyata sangatlah besar. Malam tanggal 13, timeline-ku di twitter dipenuhi oleh keluhan galau salah seorang teman jomblo. Kalimat-kalimat semacam 'Valentine suck' atau 'aku gak galau kok' dan sejenisnya berulang kali muncul, semakin menegaskan bahwa yang bersangkutan sesungguhnya berada dalam kondisi galau akut. Akibat menghadapi kenyataan bahwa pada Valentine dia masih jomblo. Lebih persisnya lagi, karena dia tidak punya pacar. 
Aku suka memperhatikan twit-twit atau status kawan-kawan di dunia maya. Social media semacam facebook dan twitter sudah bukan rahasia umum lagi sering menjadi tempat keluh kesah orang-orang. Termasuk aku. Namun, menurutku lho ini, keluhan-keluhan itu sebaiknya dibatasi. Terlalu sering mengeluh atau menggalau, istilah zaman sekarangnya, di jejaring sosial bisa menimbulkan persepsi macam-macam. Mengeluhlah dengan cerdas, begitu menurutku sebaiknya. 
Oke, kembali ke... ke masalah sebelumnya. Tentang Valentine, jomblo, dan galau. Mungkin aku bisa dibilang bersikap terlalu dingin dan sinis, disebut tidak mengerti bagaimana sakitnya sendirian tanpa mempunyai pasangan. Tidak mengerti bagaimana rasa kesepian yang mendera, menghantui, sampai membuat terpuruk. Percayalah, aku tahu bagaimana rasanya itu.
Dulu. 
Beberapa tahun yang lalu. 
Tiga, persisnya.
Sekarang... bisa dibilang sudah terbiasa. 
Jadi ketika membaca keluhan galau yang kelewatan, sangat kelewatan nyaris menjurus ke alay lebay dosisnya, yang bisa kupikirkan hanyalah, "Come on, get a hold of yourself. Don't show it obviously in social media."
It's not like you don't have rights to write what you want or express what you feel. You'd better write them all in your personal blog.

Sebenarnya, tanpa ada event Valentine pun kegalauan itu terjadi tiap hari. Hanya saja, karena tanggal itu adalah harinya cinta, kegalauan masal pun terjadi. I did have a blue Valentine, you might say. Cuma diam di rumah, nonton anime dan makan cheetos, lalu mengetik cerita. Tapi karena aku menikmati kegiatan yang kulakukan, jadinya tidak terlalu masalah.
Kesendirian itu memang nyata, dan kadang-kadang membuat frustasi. Tapi jangan biarkan emosi-emosi semacam itu membuat kita terpuruk terlalu lama. Masih ada banyak hal yang bisa dilakukan, dinikmati, diamati, diperhatikan. Jangan biarkan pikiran-pikiran negatif menguasai terlalu lama. Definisi 'lama' tergantung masing-masing individu sih. Akan tetapi, pada intinya, jangan biarkan emosi-emosi negatif meraja di hati dan pikiran berlama-lama.
Merasa buruk dan terbuang itu wajar kok, gak ada yang salah dari itu :)
Itu sesuatu yang sangat manusiawi. Aku juga sering mengalaminya, sangat sering. Tapi coba balikkan sedikit cara pandang, lihatlah dari sisi positifnya :) Kuasai dirimu, jika tidak bisa, carilah seorang kawan yang bisa membuatmu kembali ke jalan yang benar :p

Kadang-kadang, keluhan itu tidak bisa kita curahkan seutuhnya ke teman atau sahabat kita. Faktor-faktor penghalangnya bisa macam-macam, sejenis takut mengganggu, takut tidak didengarkan, takut tidak mendapat respon bagus, hingga tidak yakin mau menceritakannya. Pilihan yang tersisa biasanya curhat habis-habisan di facebook atau twitter. 
Untuk kasusku, seringnya, aku suka merasa tidak tahu mau cerita pada siapa dan merasa kegalauanku terlalu tidak penting untuk dicurhatkan pada sahabat.

Oke, kembali ke topik.
Apa tadi topiknya?
Oh, galau.
Hmm. Yah, jadi (ciri-ciri aku mulai tidak yakin mau menulis apa), galau itu wajar selama tidak berlebihan. Jika ingin mengeluh atau menggalau di jejaring sosial, lakukanlah dengan cerdas. Jangan biarkan emosi-emosi negatif mengonsumsimu dari dalam. Ada banyak hal, sangat banyak, yang bisa dilakukan selain meratapi mengapa kita tidak kunjung mendapat pacar hingga sekarang.
Akan datang nanti waktunya, mungkin, bagi beberapa orang, merasa bosan akan ikatan yang terlalu lama. Mumpung masih muda, masih banyak waktu, kita lakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan positif :)

Ngomong-ngomong soal cinta dan jodoh, kemarin aku mendapat satu lagi bukti nyata tentang 'cinta tidak kemana'. Salah seorang kawanku pernah menangis habis-habisan saat mengetahui pacarnya selingkuh dengan orang lain tiga tahun lalu. Tahun demi tahun berlalu sejak saat itu, ada saat-saat di mana dia bahkan merasa sungguh-sungguh benci pada mantan pacarnya. Tetapi, Tuhan telah merancangkan cerita tersendiri bagi mereka. Kejutan besar, temanku dan mantan pacarnya kembali jadian lagi saat hari Valentine kemarin! XD
Detilnya memang belum kutanyakan, tapi aku bisa melihat bahwa dia bahagia. 
Memang belum bisa dikatakan mereka jodoh, tapi fakta bahwa semesta membuat mereka bersama lagi, bukankah itu indah sekali? Itu bukti cinta tidak akan ke mana... 
Dipisahkan bagaimanapun, jika semesta, Tuhan menghendaki, toh ujungnya akan kembali bersama.

So, have faith. 
Someday, you will, ABSOLUTELY WILL find your half-of-the-one :)
It may takes some time, though, but I'm sure it's something worth to wait! :)
Stop being galau, cheer up, be happy :D
Do many positive things when we're still young.

You are very special, don't waste yourself doing useless thing!


Cheers!


xoxo

Erinda Moniaga

1 comment:

  1. Hhhmm, c'est un bon ecrit, mais comment parle-je "galau" en france? je sais pas vraiment, mais evidement j'espere que tu peux trouver ton armour en france. bon courage a tout au long de ta vie..

    ReplyDelete