every word, every move, every expression has its own meaning. here I'm noting it.

Wednesday, February 22, 2012

artwork for Elysium

Hello everyone :D
Sungguh menyenangkan sekali tanggal 18 Febuari cerita fantasi yang mau kuikutkan lomba bisa selesai tepat waktu, dan bisa di-submit juga sebelum deadline. 
Proses supaya bisa menulis cerita itu lumayan juga, karena writer's block yang terjadi selama 3 minggu itu sangat merepotkan -_-
Nah, yang penting sudah jadi. Syukur-syukur menang. Kalah ya mau gimana, nasib, hahaha. Toh nanti aku bisa buat cerita lagi yang baru :D

Jadi di postingan ini aku mau mengunggah gambar yang dibuatkan kawanku, si Dewa Astana aka Degus, untuk cerita Elysium. Temanku ini sudah membuatkan sketsa gambarnya jauh sebelum cerita Elysium itu sendiri tamat. Yang dibuatkan artwork-nya adalah kedua tokoh utama ceritanya, Ra Ptolemaus dan Varuna :D
Sketsa gambarnya cuma sekali mengalami perubahan untuk Varuna, sedangkan si Ra ada dua kali sebelum akhirnya versi finalnya jadi.

Well, daripada berlama-lama ngomong gak penting, langsung aja, inilah dia gambarnya:
Ra Ptolemaus

Varuna The Water Phoenix
Aku sangat, sangat, sangat suka sekali gambar yang dibuatkan temanku iniiiii!!!!!! XD XD XD
Ra ama Varuna, mereka berdua seperti inilah di imajinasiku dan temanku yang luar biasa itu sukses menerjemahkan imajinasiku di otak dan tulisan menjadi gambar keren di atas :3
Itu si Varuna di gambar yang versi sketsa 85% di laptopku, ada versi zoom-in, and she looks so beautiful. Ra juga sama, ada versi zoom-in-nya. Kakoiiii!!!!! >.<
Seandainya ada yang mau buatin gambar Zev, Jord, sama Hyperion. Mereka bertiga itu juga super cool sekali kalau di imajinasiku. Sayang ya aku gak pintar gambar -_-
Thanks so much, my friend, Degus!!! XD

Sekian cuap-cuapku di postingan ini. Mungkin nanti cerita Elysium ini bakal kujadikan novel, setelah banyak temanku yang sudah membaca memprotes kenapa ceritanya hanya sependek itu. Yang diikutkan di  lomba juga sebenarnya versi yang sudah dipadatkan, karena aslinya ada 14 halaman, sedangkan syarat lomba hanya boleh 9ribu-10ribu characters tanpa spasi.

Oh ya, yang belum baca Elysium, silakan di-klik link berikut >> Elysium

Terima kasih banyak bagi yang sudah membaca XD
Kalau boleh minta komentarnya, silakan langsung ditinggalkan :D

Have a nice day, everyone!


xoxo,
Erinda Moniaga

Tuesday, February 21, 2012

Elysium


Lomba Fiksi Fantasi 2012
Judul : Elysium
Keyword : rajah, salju, cerpelai, rasi, palung

Ra berlari sekencang-kencangnya menuju arena pertempuran. Isi pikirannya kini bercabang. Benar, memang, bahwa misi membunuh sang Phoenix Air masih berada di urutan teratas dalam daftarnya, namun perkataan si Phoenix Air sudah mengganggunya sedemikian rupa. Bahwa sesungguhnya Ras Manusialah yang bersalah. Bahwa para Makhluk Mistis hanyalah korban, kambing hitam semata dari cerita busuk yang dikarang-karang para petinggi Ras Manusia. Bahwa mereka sesungguhnya bersedia untuk tinggal berdampingan di Elysium. Di surga.
      Semua itu terbalik dari apa yang dia ketahui, dari apa yang sudah dicamkan para penguasa di tanah kelahirannya. Mana sebenarnya kenyataannya?
      Ra harus menemukan Varuna, si gadis penjelmaan Phoenix Air. Gadis itu berutang penjelasan lebih lanjut. Dan jika dia berdusta, tiada ampun lagi, dia harus mati. Mestinya sewaktu tadi Varuna menyembuhkan luka-lukanya, Ra tidak usah ragu. Kenapa dia tidak bisa membunuh gadis itu? Satu lagi hal yang mengusiknya, perkataan Varuna bahwa meskipun di masa ini lagi-lagi mereka tidak bisa bersatu, dia yakin mereka akan bersatu nanti, di suatu masa yang akan datang. Apa maksudnya? Mengapa dia berbicara seolah-olah sudah mengenalnya lama sekali, padahal ini kali pertama mereka bersua? Bagaimana gadis itu bisa mengetahui namanya? Dan, yang paling penting, kenapa musuhnya itu mau menyembuhkan luka-lukanya?
      Ra harus menemukannya, tidak bisa ditunda-tunda lagi. Benang yang terlampau kusut ini harus diuraikan.
      Suara-suara pedang yang saling bersilang terdengar nyaring saat Ra mencapai arena perang di tepi pantai. Rangkaian mantra sihir terucap bagai lagu kematian. Teriakan-teriakan haus kekuasaan para manusia. Makhluk mistis yang berusaha sesedikit mungkin untuk melukai para manusia dan sedapat mungkin hanya melakukan sihir pertahanan. Darah. Mayat-mayat bergelimpangan dengan luka-luka mengenaskan dan menganga. Mata-mata yang terbuka namun tidak lagi memandang.
      Ra menjerit dalam hati, inikah perangai manusia? Manusia yang katanya adalah ciptaan paling mulia?
      Dia berlari, giginya menggertak keras. Tinggi-tinggi diangkatnya pedangnya pada tangan kanannya dengan gerakan mengancam, tapi tidak menusuk siapa-siapa. Dia melihat ke segala arah, matanya mencari-cari Varuna.
      Kemudian dari pusat medan tempur terjadilah ledakan cahaya biru. Sinarnya sangat menyilaukan, semua yang ada di sana sampai harus menutup mata sejenak. Terdengar teriakan Orion Ptolemaus, Jendral Ras Manusia, kakaknya, membahana, “Dasar Makhluk Mistis tolol! Saudaramu si Naga Api Hyperion setengah mati berusaha menyembunyikanmu, tapi kau sendiri datang ke mari! Sudah siap mati rupanya kau?“
      Wajah Ra memucat ketika mendengar perkataan itu. Dia akhirnya sampai di sana, terengah-engah, melihat Varuna berdiri dengan tenang dan anggun. Gadis perwujudan Phoenix Air itu berambut cokelat madu dan bermata biru, ekspresinya begitu lemah lembut. Dengan nada tegas dia menyahuti ucapan Orion, “Perang konyol ini tidak perlu terjadi, wahai Manusia. Sudah kami katakan bahwa kami bersedia hidup bersama-sama. Kami bersedia membagi buah dari Pohon Kehidupan. Kami bersedia membagi Elysium, membagi surga. Mengapa kalian tidak mau?“
      Orion tertawa terbahak-bahak, lalu menyeringai sadis serta dipenuhi hawa nafsu, “Berbagi katamu? Yang benar saja! Kami harus menjadi penguasa mutlak surga ini, tidak perlu dibagi-bagi! Makhluk seperti kalian tidak pantas hidup! Hanya kamilah,“ Orion memperlihatkan rajah dengan simbol-simbol kuno yang terlukis di lengan kanannya, penuh kebanggaan; rajah yang menandakan dia adalah keturunan manusia bukannya makhluk mistis, “Ras Manusia, yang pantas menghuni surga!“
      Kernyitan pada dahi Varuna semakin dalam. Dia teringat Pohon Kehidupan yang bersemayam di pusat Elysium. Pohon Kehidupan yang menyokong surga ini dari dalam. Dia teringat padang yang mengelilingi Pohon Kehidupan, bunga-bunga sewarna lembayung sedang bersemi dengan cantiknya. Gunung-gunung dengan puncak salju putih menjulang di selatan pulau. Pantai dengan pasir putih yang begitu lembut terserak di utara pulau. Perkampungan para Makhluk Mistis berada di segala sisi Elysium, hidup saling berdampingan dengan damai. Hewan berbagai jenis hidup dengan tenang di hutan, singa dengan domba, cerpelai dengan ular, harimau dengan kelinci, tidak ada saling membunuh. Sebuah sungai yang berpusat dari tengah hutan Elysium terbagi menjadi empat, masing-masing mengaliri empat penjuru pulau, sisi utara, timur, selatan, dan barat.
      Segalanya terproyeksikan dengan jelas dalam benak Varuna. Elysium yang indah dan damai. Hatinya merana dan bertanya-tanya, mengapa perang ini harus terjadi?
      “Varuna!“ Ra mendongak, tidak jauh dari sana seorang laki-laki berjuang untuk mendekat. Ra bisa mengetahui bahwa laki-laki itu sangat khawatir dan ketakutan. Matanya yang sewarna langit senja kemerahan sudah bertutur segalanya. “Varuna, jangan, hentikan, kembalilah ke Pohon Kehidupan, hanya kau yang bisa menjaga¾ugh,” lalai tidak berkonsentrasi, sebuah pedang sukses menembus perutnya. Varuna seketika menjerit.
      “Hyperion...“ lutut gadis itu goyah melihat sang Naga Api Hyperion terluka, ia terjatuh. Air mata dengan deras mengalir, “Kumohon, hentikan, jangan lukai saudara-saudaraku lebih dari ini!“
      Kepuasan liar tergambar dengan jelas pada mata Orion. “Jadi?“
      “Bunuh aku, bunuh saja aku, hentikan perang ini, jangan lukai saudara-saudaraku lagi, jangan ada lagi manusia yang mati sia-sia! “
      Adegan yang terjadi di depan matanya membuat Ra muak. Tempat tanah kelahirannya sudah sangat sekarat. Banyak manusia yang keracunan. Mulanya Ra tidak tahu apa sebabnya, dia menerima segala cerita yang dijejalkan padanya, bahwa kehancuran dan kematian Ras Manusia disebabkan oleh para Makhluk Mistis, oleh karena itu Ras Manusia harus merebut Elysium, tempat tinggal Makhluk Mistis, sebagai ganjaran atas perbuatan jahat mereka. Namun setelah melihat bagaimana cara kakaknya memperlakukan Varuna serta sesama bangsa penghuni Elysium, Ra mulai tidak meyakini apa yang diceritakan padanya. Mungkin Varuna memang benar. Mungkin memang manusia yang telah merusak tanah kelahiran mereka sendiri dengan berusaha melakukan sihir-sihir terlarang, dan gagal total. Akibat tidak mampu mempertanggungjawabkan perbuatan mereka, akhirnya mereka membuat cerita seolah-olah para Makhluk Mistislah yang berbuat keji.
      Ra merasa gamang.
      Orion melihat sekelilingnya. Perang masih berlangsung, tapi sebagian pasukan yang berada di dekat-dekat sana terdiam akibat mendengar pembicaraan mereka. Kemudian dilihatnya Ra berdiri tidak jauh dari sisinya, “Wahai, Ra, adikku sang pemanah terbaik, kuberi kau kehormatan untuk membunuh si Phoenix Air ini. Phoenix yang daging dan darahnya mampu memberikan kesembuhan dan hidup abadi! Lakukan, adikku, demi saudara-saudara kita yang sekarat di tanah kelahiran kita!“
      Varuna menoleh ke arah Ra. Tatapannya seolah-olah mengatakan ‘lakukan saja.’
      Ra menelan ludah. Bukan situasi begini yang ia harapkan.
      “Ayo, pasukanku, beri semangat pada pahlawan kita, Ra Ptolemaus!“ Orion meraung pada pasukannya sembari tertawa buas.
      “Varuna!“ seekor serigala berbulu perak, sang Serigala Angin Zev, dan rusa jantan berbulu cokelat kemerahan, sang Rusa Tanah Jord, muncul. “Varuna, terbang ke sini, cepat!“
      Ra tidak mengerti. Kenapa gadis itu justru menggeleng dan tersenyum? Kenapa dia pasrah? Kenapa dia tidak melawan, tidak membunuh pasukan manusia satu per satu? Dia Makhluk Mistis terkuat, penjaga Pohon Kehidupan, penjaga Elysium, penjaga surga!
      “Ra, jangan biarkan kami menunggu terlalu lama!“ Orion berkata memperingatkan. “Lakukan segera!“
      Pikiran Ra kosong.
      Busur Ra terangkat. Panah saktinya, Silverataca, siap dilepaskan.
      Jord dan Zev, yang telah berubah ke wujud manusia namun masih tetap melayang di langit, mengambil ancang-ancang akan membunuh Ra, tapi Varuna berkata, “Jangan lakukan apa-apa. Rasi bintang di langit sudah mengatakan ramalannya. Aku tidak mau itu terjadi, kalian mengerti kan?“
      Pikiran Ra kosong.
      Matanya menatap mata Varuna. Suara riuh hiruk-pikuk dari arena perang lenyap ditelan kesunyian, seakan-akan sekeliling mereka membelesak lenyap, dan hanya tersisa keheningan. Arus waktu membeku.
      Lagi-lagi nuansa itu. Lembar-lembar lama dari suatu masa pelan-pelan menyeruak. Ada sesuatu yang sedari awal mengusiknya mengenai Varuna. Matanya, suaranya...
      “Ra...“ bisik Varuna.
      Ada suara-suara terdengar, Ra tidak tahu dari mana, tapi dia mendengarnya. Suara-suara itu memanggilnyakah?
      Siapa... siapa itu yang memanggilnya?
      Ra...
      Pemahaman mendadak muncul.
      Itu suara jiwa. Suara jiwanya yang memanggilnya dan membangunkan apa yang telah lama tertidur.
      Itu suara paruhan jiwanya yang telah lama terpisah.
      Segalanya menjadi jelas bagi Ra.
      Mengapa Varuna tahu namanya. Mengapa Varuna berkata suatu saat nanti mereka akan bersatu, meskipun di masa lalu dan kini tiada mungkin.
      Ya, segalanya menjadi jelas bagi Ra.
      “Varuna...“ ganti Ra berbisik.
      Anak panahnya dilepaskan.
      Varuna tidak memejamkan matanya sama sekali, siap menerima kematiannya. Jord, Zev, Hyperion, dan segenap Makhluk Mistis yang berada di sekitar sana berteriak. Orion mengeluarkan tawa kemenangan sementara pasukannya bersorak-sorai.
      Panah itu menancap di dahi salah satu perwira tinggi Ras Manusia yang berdiri di belakang Varuna.
      Ra menurunkan busurnya, tersenyum pada Varuna.

      Aku percaya padamu.
      Sungguh?
      Ya. Tidak akan kubiarkan siapapun mati lagi.
Terima kasih, Ra.
      Varuna, aku sudah tahu...
Apa yang kauketahui?
      Bahwa sesungguhnya kita adalah¾

      Mata Ra membelalak ketakutan saat melihat Orion berseru murka, menarik pedangnya keluar dari sarungnya, membabi buta berlari ke arah Varuna, berniat menghabisinya. Mulutnya merapalkan mantra-mantra, membuat Varuna yang tidak siap untuk bertahan menjadi tidak bisa bergerak. Ra melolong.
      Dia melempar badannya menjadi tameng antara Varuna dan kakaknya.
      Tertusuk persis di jantung. Semua makhluk yang ada di sana terdiam. Darah muncrat, membasahi Varuna yang dilindungi oleh Ra.
      Keheningan sungguh merayap di sekeliling tempat itu.
       Varuna memandangi telapak tangannya yang basah oleh darah Ra. Gelombang demi gelombang emosi berkecamuk dalam palung hatinya, merangkak naik, siap muncul di permukaan untuk meledak.
      Orion menarik pedangnya, matanya melebar dibanjiri keterkejutan yang amat sangat.
      Ra terbatuk, gumpalan darah keluar, “Varuna...“ mata hitam dan mata biru bertemu, “maafkan...“ dia terjatuh menimpa si gadis.
      Varuna menunduk, memandang pemuda yang ada dalam pelukannya. “Ra?“
      Dia sudah tahu. Dia sudah tahu ini akan terjadi.
      “Ra?“ katanya putus asa. Air mata bagaikan butir permata berjatuhan. “Ra, jawab aku,“ tangannya mengeluarkan sinar biru penyembuh, berusaha menyembuhkannnya. “Ra...“
      Sia-sia, dia tahu ini sia-sia. Karena itu dia yang mestinya mati. Mestinya dia yang mati, dia saja, jangan orang lain. Sudah terlambat.
      Namun Ra tak menjawab. Tidak lagi. Tidak akan.
      Apa gunanya perang ini? Mengapa manusia-manusia itu begitu rakus? Mengapa harus mengorbankan begitu banyak nyawa? Mengapa mereka tidak bisa hidup berdampingan? Mengapa saudara-saudaranya, Jord, Zev, dan Hyperion mesti terluka? Mengapa dunia ini begitu rusak? Mengapa Ra harus mati? Mestinya dia saja. Cukup dia saja yang menanggungnya!
      Ra sudah pergi.
      Dan Varuna pun menjerit.
      Kekuatannya yang tersegel terlepas.
      Kiamat dunia pun terjadi.
      Semuanya sesuai penglihatannya, Varuna, sang Phoenix Air. Si gadis jelmaan Phoenix penguasa air yang mampu melihat masa lalu dan masa depan. Gadis dengan kekuatan luar biasa. Gadis yang berusaha mati-matian untuk membelokkan kenyataan tapi tidak berdaya.
      Dialah deus penghancur dunia.



-Erinda Moniaga-

Saturday, February 18, 2012

Wednesday, February 15, 2012

tentang sesuatu yang disebut galau

Satu pertanyaan yang beberapa kali ditanyakan dari kemarin hingga hari ini, "Valentine-nya gimana?"
Oh, well...
Itu pertanyaan sebenarnya hanya pertanyaan biasa, tidak ada maksud intimidasi atau apa. Dengan datar aku menjawab, "Ah, gak gimana-mana. Cuma nonton film aja di rumah."
Hari Valentine sudah semakin dianggap budaya di sebagian besar kota di Indonesia, dirayakan semacam hari Natal atau Tahun Baru. Antara teman-temanku di Denpasar, Bali, bahkan menyebut tanggal 13 Febuari sebagai 'penampahan' Valentine, sementara tanggal 15 sebagai 'manis' Valentine. Itu istilah yang biasa digunakan dalam hari raya Galungan dan Kuningan. 
Efek Valentine kepada kondisi kejiwaan (beberapa tipe) orang ternyata sangatlah besar. Malam tanggal 13, timeline-ku di twitter dipenuhi oleh keluhan galau salah seorang teman jomblo. Kalimat-kalimat semacam 'Valentine suck' atau 'aku gak galau kok' dan sejenisnya berulang kali muncul, semakin menegaskan bahwa yang bersangkutan sesungguhnya berada dalam kondisi galau akut. Akibat menghadapi kenyataan bahwa pada Valentine dia masih jomblo. Lebih persisnya lagi, karena dia tidak punya pacar. 
Aku suka memperhatikan twit-twit atau status kawan-kawan di dunia maya. Social media semacam facebook dan twitter sudah bukan rahasia umum lagi sering menjadi tempat keluh kesah orang-orang. Termasuk aku. Namun, menurutku lho ini, keluhan-keluhan itu sebaiknya dibatasi. Terlalu sering mengeluh atau menggalau, istilah zaman sekarangnya, di jejaring sosial bisa menimbulkan persepsi macam-macam. Mengeluhlah dengan cerdas, begitu menurutku sebaiknya. 
Oke, kembali ke... ke masalah sebelumnya. Tentang Valentine, jomblo, dan galau. Mungkin aku bisa dibilang bersikap terlalu dingin dan sinis, disebut tidak mengerti bagaimana sakitnya sendirian tanpa mempunyai pasangan. Tidak mengerti bagaimana rasa kesepian yang mendera, menghantui, sampai membuat terpuruk. Percayalah, aku tahu bagaimana rasanya itu.
Dulu. 
Beberapa tahun yang lalu. 
Tiga, persisnya.
Sekarang... bisa dibilang sudah terbiasa. 
Jadi ketika membaca keluhan galau yang kelewatan, sangat kelewatan nyaris menjurus ke alay lebay dosisnya, yang bisa kupikirkan hanyalah, "Come on, get a hold of yourself. Don't show it obviously in social media."
It's not like you don't have rights to write what you want or express what you feel. You'd better write them all in your personal blog.

Sebenarnya, tanpa ada event Valentine pun kegalauan itu terjadi tiap hari. Hanya saja, karena tanggal itu adalah harinya cinta, kegalauan masal pun terjadi. I did have a blue Valentine, you might say. Cuma diam di rumah, nonton anime dan makan cheetos, lalu mengetik cerita. Tapi karena aku menikmati kegiatan yang kulakukan, jadinya tidak terlalu masalah.
Kesendirian itu memang nyata, dan kadang-kadang membuat frustasi. Tapi jangan biarkan emosi-emosi semacam itu membuat kita terpuruk terlalu lama. Masih ada banyak hal yang bisa dilakukan, dinikmati, diamati, diperhatikan. Jangan biarkan pikiran-pikiran negatif menguasai terlalu lama. Definisi 'lama' tergantung masing-masing individu sih. Akan tetapi, pada intinya, jangan biarkan emosi-emosi negatif meraja di hati dan pikiran berlama-lama.
Merasa buruk dan terbuang itu wajar kok, gak ada yang salah dari itu :)
Itu sesuatu yang sangat manusiawi. Aku juga sering mengalaminya, sangat sering. Tapi coba balikkan sedikit cara pandang, lihatlah dari sisi positifnya :) Kuasai dirimu, jika tidak bisa, carilah seorang kawan yang bisa membuatmu kembali ke jalan yang benar :p

Kadang-kadang, keluhan itu tidak bisa kita curahkan seutuhnya ke teman atau sahabat kita. Faktor-faktor penghalangnya bisa macam-macam, sejenis takut mengganggu, takut tidak didengarkan, takut tidak mendapat respon bagus, hingga tidak yakin mau menceritakannya. Pilihan yang tersisa biasanya curhat habis-habisan di facebook atau twitter. 
Untuk kasusku, seringnya, aku suka merasa tidak tahu mau cerita pada siapa dan merasa kegalauanku terlalu tidak penting untuk dicurhatkan pada sahabat.

Oke, kembali ke topik.
Apa tadi topiknya?
Oh, galau.
Hmm. Yah, jadi (ciri-ciri aku mulai tidak yakin mau menulis apa), galau itu wajar selama tidak berlebihan. Jika ingin mengeluh atau menggalau di jejaring sosial, lakukanlah dengan cerdas. Jangan biarkan emosi-emosi negatif mengonsumsimu dari dalam. Ada banyak hal, sangat banyak, yang bisa dilakukan selain meratapi mengapa kita tidak kunjung mendapat pacar hingga sekarang.
Akan datang nanti waktunya, mungkin, bagi beberapa orang, merasa bosan akan ikatan yang terlalu lama. Mumpung masih muda, masih banyak waktu, kita lakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan positif :)

Ngomong-ngomong soal cinta dan jodoh, kemarin aku mendapat satu lagi bukti nyata tentang 'cinta tidak kemana'. Salah seorang kawanku pernah menangis habis-habisan saat mengetahui pacarnya selingkuh dengan orang lain tiga tahun lalu. Tahun demi tahun berlalu sejak saat itu, ada saat-saat di mana dia bahkan merasa sungguh-sungguh benci pada mantan pacarnya. Tetapi, Tuhan telah merancangkan cerita tersendiri bagi mereka. Kejutan besar, temanku dan mantan pacarnya kembali jadian lagi saat hari Valentine kemarin! XD
Detilnya memang belum kutanyakan, tapi aku bisa melihat bahwa dia bahagia. 
Memang belum bisa dikatakan mereka jodoh, tapi fakta bahwa semesta membuat mereka bersama lagi, bukankah itu indah sekali? Itu bukti cinta tidak akan ke mana... 
Dipisahkan bagaimanapun, jika semesta, Tuhan menghendaki, toh ujungnya akan kembali bersama.

So, have faith. 
Someday, you will, ABSOLUTELY WILL find your half-of-the-one :)
It may takes some time, though, but I'm sure it's something worth to wait! :)
Stop being galau, cheer up, be happy :D
Do many positive things when we're still young.

You are very special, don't waste yourself doing useless thing!


Cheers!


xoxo

Erinda Moniaga

Sunday, February 5, 2012

curhatan tidak mutu di awal tahun

Sudah tiga puluh enam hari berlalu sejak tahun 2012 dimulai...
Halo, everyone. Hisashiburi desu!
Kabarku untuk hari ini bisa dibilang sudah membaik, setelah kemarin seharian tepar di kasur, tidak mampu melakukan apapun selain berguling-guling dan memejamkan mata menahan pusing.

Nah. 
Apa yang akan kita bicarakan malam ini?
Seperti biasa, jawabannya adalah tidak jelas, hahaha. Aku hanya merasa ingin menulis sesuatu di blog, lagi-lagi tanpa mengetahui apa yang sebenarnya ingin ditulis. Kelamaan berpikir pun tidak akan mengantarku menemukan judul yang ingin diceritakan, jadi sebaiknya memang langsung saja menulis.

Cuap-cuap kali ini akan sangat random. Selama dua minggu awal di bulan Januari, waktu tidurku berubah karena harus mengejar deadline skripsi. Sungguh dua minggu yang complicated, kalau diingat-ingat. Waktu tidur berubah. Malam hari bangun sampai subuh sekitar jam enam pagi untuk mengetik, sementara setelah jam enam pagi lewat sampai kira-kira jam sepuluh pagi untuk beristirahat. Lalu beraktivitas sedikit, yang berhubungan dengan kampus pagi, dsb, etc, dll, lalu kembali ke depan laptop. Hari-hari yang indah sekali. Kalau sudah mulai jenuh dan galau yang bisa dilakukan hanya twitting. Aku inget banget pernah satu subuh timeline-ku penuh berisi twit-twitku saja, yang semuanya hanya kicauan berbau skripsi. Dan luar biasanya, dalam waktu dua minggu skripsiku selesai. Walaupun karena suatu kejadian tertentu yang terjadi di kampus membuatku malas melanjutkan. Tidak perlu diceritakan di sini. Yang penting nanti Maret aku bakalan sidang skripsi lalu Mei wisuda. Untuk kampus pagi, sepertinya awal tahun depan baru bisa lulus. Lama sekali ya. Sejujurnya, aku sudah bosan kuliah di kampus pagiku. Kalau tidak sehati dengan jurusan yang dikuliahi memang susah ya *senyum prihatin

Kemudian...
Cerita fantasiku sampai sekarang gak jadi-jadi juga ya -_-
Penghadang utama adalah skripsi, dan sejak skripsi selesai, mengumpulkan mood untuk menulis sesuatu yang berbau fantasi dan mistis itu agak-agak sulit. Mau menulis yang ringan macam cuap-cuap penulis di blog seperti ini saja susahnya ampun-ampunan, apalagi menulis cerita fantasi -_-
Tapi sedang diusahakanlah, soalnya deadline lomba cerpen fantasi adalah tanggal 21 Febuari, kalau tidak lekas ditulis, bisa-bisa batal ikut. Aku sudah gagal mengirim naskah ke UWRF, kali ini gak boleh gagal lagi!

Lalu, aku juga sedang mengkaji ulang karakter-karakter yang akan kubuat untuk duet comic project bersama kawanku dari kampus pagi. Sebelumnya memang sudah jadi empat orang tokoh utama, namun setelah vakum akibat tugas, lalu membaca ulang tiga puluh lembar pertama draft, aku merasa banyak yang belum kupertimbangkan dalam menulis cerita ini. Kuputuskan untuk mendalami para karakter dulu sebelum mulai menuliskan ceritanya lagi, sehingga nanti sewaktu menulis tidak bingung-bingung seperti sekarang. Jujur saja, aku masih belum memahami karakter tokoh utama untuk cerita ini -_-
Padahal aku sendiri yang membuat -_-
Diperlukan riset yang sangat mendalam untuk proyek ini, gak bisa asal langsung nulis lagi seperti dulu. Karena dimensi dunia yang akan kubuat nanti besar, satu kejadian dengan kejadian lain akan saling berhubungan, kalau tidak dibuat timeline yang benar, ceritanya bisa kacau. Setelah pengkajian ulang ini selesai, baru kawanku yang membuat gambar akan mulai bekerja. Ceritanya kita berdua mau kayak Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata, duo kreator dari Death Note :p
Ceritanya tentang apa, tidak bisa dibeberkan di sini. Rahasia perusahaan. Semoga saja cerita bagian pertamanya bisa kuselesaikan dalam kurun waktu setahun ini :3

Sebenarnya masih ingin menulis sih, cuma karena kondisi kesehatan belum begitu fit untuk bangun dan duduk terlalu lama, kegiatan menulis blog harus dihentikan sampai di sini.

Sekian cuap-cuap saya hari ini.

Semangat selalu!
XD



-Erinda Moniaga-