every word, every move, every expression has its own meaning. here I'm noting it.

Thursday, May 19, 2011

catatan 8 Januari - Cermin

berikan cerminmu padaku, 


biarkan aku berkaca padamu.


 sejenak. 


cerminku keruh tak berdasar,
tak membiaskan pelangi hanya teka-teki. 


refleksiku tercuri, di manakah harus kucari? 




hah...










Erinda Moniaga
January 8 2011


catatan di pagi hari.

catatan 5 Januari - di satu subuh yang dingin

Seperti sedianya, angin dingin berhembus, 
mengejekku yang berdiri kaku penuh malu


ah, rutukan dan ratapan mengaliri angan
adakah kau tahu? 


ingin rasanya kuusik ketenanganmu seperti melempari danau dengan kerikil






seandainya kau tahu...












Erinda Moniaga
Jnuary 5 2011

Catatan 3 Januari 2011 - 2

bersandar pada melankolia sesaat, 


menikmati wanginya yang manis sekaligus 


menyakitkan, 


terbenam membeku, 


setengah hati berusaha bernapas, 




karena 




ketiadaan...














Erinda Moniaga
January 3 2011

Catatan 3 Januari 2011

Kesadaranku menari-nari bersama keremangan subuh...

sejumput ingatan menggeliat, menyeruak, menebas batas yang baru belakangan kukenali... 

di manakah harus kucari... 

keberadaanmu melenyap di saat terjaga... 

di manakah harus kucari... 

lebar dunia ini tampak mungil dalam genggaman sang waktu... 




di mana harus kucari....








Erinda Moniaga
January 3 2011

super-short story

hola fellas! 
this is the writer of this blog, mean me myself, Erinda Moniaga, speaking.
it's been a while since the last post in my blog... 3 months? 4 months? whatever.
well, I've been busy with my pre-proposal paper of my study lately. 
I can't tell here now what it is about, it's still a secret :P
until I finish it and graduate, I will certainly write about it in this blog.

now, now, what I wanna talk here is about my type of story. I name it super-short story. You know, there are two kinds of literary work: fiction and nonfiction. The types of fiction are prose, poetry, and drama. My specialty (might say that) is on prose. 
Nah, since junior high school, I've wrote 3 novels, some poems and verses, some dialogs for a a short movie, and any short stories. Actually I can't write short story. The story is gonna be either too long (novel-to-be) or too short (yet it's not a poem). So, what kind of prose is it? I make my own term --> SUPER-SHORT STORY.

what is it like?
you can see my kind of super-short story in this blog.
recently I've posted 2 entitled Hujan (Indonesian. Rain in English) and Badai (Indonesian. Storm in English). The last part, Pelangi (Rainbow in English) is yet to publish. It's on process. Well, actually, I haven't write it :P
They would be like trilogy with no same characters. The point is in the feelings inside the stories. I try to show the feelings, the emotions with the depiction of Rain and Storm. Before I post all the super-short stories, I post them on facebook, so in case you wanna see the comments of the reader, just go to my facebook account --> http://www.facebook.com/erinda.moniaga

the previous super-short stories, Yogurt, Caramel Java Chip, etc have also been posted on facebook. but I really wish anyone who haven't read all my notes in facebook and read (part) of them here, you would leave any comments or critics :)

umm, I guess that's all. I don't know what to say :P

thanks so much!



xoxo,
Erinda Moniaga


Sunday, May 15, 2011

Badai

Badai.
Pernahkah kau melihat badai?

                ***

“Mau ke mana kamu?“
Itu suara kakakku, terdengar curiga dan penuh dengan tanda tanya, bukan sekedar satu.
“Kiran?”
Dan kali ini bukan hanya sekedar tanda tanya yang menyertai kalimat itu, ada kilasan tanda seru yang memerintahkanku untuk menjawab pertanyaannya. Jujur, aku tidak berniat sama sekali untuk membalikkan badanku menghadapinya.
“Aku...“ kataku terputus, menatap pintu dihadapanku, “pergi dulu.”
Dan kubanting pintu menutup di belakangku, tidak peduli sama sekali pada ketidaksopanan yang telah kulakukan pada kakakku sendiri. Aku berlari menyeberangi halaman menuju tempat parkir mobilku. Sesegera mungkin aku menyalakan mesinnya, memindahkan persneling lalu menginjak pedal gas keras-keras. Dari kaca spion bisa kulihat kakakku tergesa menyusulku. Terserahlah. Aku tak mau ambil pusing.

                ***

Sudah satu jam lebih Kiran menyusuri jalan raya ini. Tanpa tujuan. Dia memegang setir mobil dengan lunglai. Pandangan matanya sekilas tampak seperti berfokus pada satu titik, namun sesungguhnya tidak di manapun. Sistemnya bekerja dengan autopilot. Mengemudi asal-asalan, asalkan dia tidak menabrak mobil atau motor. Mau dia berada pada jalur yang salah atau benar, dia tidak peduli dan tidak ambil pusing. Yang dia tahu, dia hanya ingin menyetir. Pergi ke suatu tempat. Tidak tahu ke mana, terserah saja. Yang penting dia pergi.
Pergi dari rumah.
Pergi dari dunianya.
Pergi dari segala tempat yang berhubungan dengan dia.

Dia.

Dia yang...
Yang sudah mengikatnya terlalu dalam.
“Ke mana saja...” bisik Kiran, nyaris merintih. Suaranya terdengar seperti kertas tipis yang nyaris tercabik. “Biarkan aku membuangmu... Biarkan aku... “
Suara klakson mobil meraung nyaring dari sisi kiri mobil. Serta-merta pandangan Kiran terjatuh pada bangunan yang berdiri di sana. Sekolahnya. Sekolah tempatnya dan dia bersekolah.
Serbuan beribu kenangan mengentaknya. Saat mereka berjalan berdua sepulang sekolah. Saat dia menemaninya menunggu jemputan di gerbang sekolah. Saat mereka bertanding basket di lapangan yang letaknya tak jauh dari gerbang. Saat mereka bersenda gurau di kelas. Saat mereka berebut makanan di kantin. Saat dia mengejek Kiran di mata pelajaran matematika akibat kelambatannya mengerti. Saat mereka membolos untuk mengobrol di tangga berdua.
Semuanya berdatangan, menyerbunya tanpa ampun.
Kiran menggertakkan giginya, pegangannya pada setir mengeras. Dengan cepat dia memindahkan persneling dan menginjak pedal gas.
Dia tidak mau mengingat lebih lanjut lagi.
Dia harus pergi dari sini.
Dan hujan mulai turun.

                ***

Sekarang pandangan mataku tertuju pada tempat-tempat di mana kami biasa makan. Beragam memori kebersamaan menghampiriku, satu per satu, masing-masing menorehkan luka baru pada hatiku yang sudah berdarah-darah.
Game center tempat kami biasa menghabiskan siang sebelum les sekolah.
Toko buku. Tempat makan. Lapangan olahraga. Pantai. Jalanan. Motor. Taman bermain. Rumah.
Semuanya.
Semuanya menyisakan jejak-jejak kenangan.
Ke mana aku harus pergi untuk menghindarinya?
Ke mana aku harus pergi untuk membuangnya?
Kenapa jejakmu harus ada di mana-mana ke manapun aku pergi??
Meskipun di luar sana angin dan hujan sedang menderu-deru, aku tahu persis tiap lokasi kenangan itu. Haha, aneh sekali. Seolah-olah tubuhku, hatiku, otakku, secara refleks sudah mengetahuinya.
Dan itu menyakitkan.

Kau tidak tahu itu kan?

Kau tidak akan mengerti seperti apa sakitku, aku berusaha membuang semuanya, menghapus segalanya yang berkaitan denganmu, oh tidak, kau tak tahu. Kau bahkan tidak mau untuk peduli. Sekejap pun tidak.
“Khu...“ aku mendengar diriku mulai tertawa. Tawa sumbang. Pahit. Mengerikan. “Hahahahaha. Ironisnya aku memaki-makimu, tapi hatiku tidak bisa melupakanmu!“
Ya. Itu benar. Aku memakinya. Aku mengatainya bajingan. Aku mengatainya penipu busuk.
Tapi aku merindukannya.
Setengah mati merindukannya.
Merindukan bajingan yang sekarang sudah bersama gadis lain...


Tolong...


Tolong katakan padaku...
Bagaimana caranya agar aku bisa lupa?
Ke mana harus kubuang semua memori ini?
Bagaimana melepaskan semua ikatan ini?
Aku muak, aku lelah, aku benci...
Aku benci menyadari diriku merindukannya...
Kumohon, siapa saja, tolonglah aku...
Selamatkan aku...

                ***

Kiran tidak menyadari dia memberhentikan mobilnya di taman dekat rumah. Taman tempatnya dan dia biasa mengobrol. Kiran sama sekali tak sadar. Mungkin dia juga tidak ambil pusing fakta bahwa sekarang ini hujan lebat tengah mengguyurnya.
Dia duduk, setengah mematung di salah satu ayunan.
Kepalanya bersandar pada tali ayunan, sorot matanya... kalut.
Kakaknya mengamatinya tak jauh dari sana, di bawah payung merah.
Mengamati mata adiknya, sang kakak tahu bahwa adiknya sedang tersesat. Tersesat di dalam badai, yang kian lama kian mengganas.
Dia bisa melihat badai tidak kasat mata yang sedang menjerat adiknya, menghancurkan sistemnya, memporak-porandakan jiwanya.

Dia bisa melihat bahwa...
Badai itu adalah Kiran sendiri...

                ***

I miss you...

                He is a jerk.

I miss you...

                HE is a jerk.

I miss him!!

                HE IS A JERK!

I...
...

***

I am lost...


I am lost in the tempest.







Erinda Moniaga ©
May 12 2011

published in Facebook on Friday, May 13 2011

Hujan

Kami berjalan berdua di bawah payung merah miliknya di suatu siang berhujan. Tidak lebat namun cukup membuat orang menggunakan payung untuk berjalan di bawahnya. Kami berjalan dalam diam, bersisian. Apakah yang dipikirkan orang-orang yang kebetulan memperhatikan kami?

Aku tidak tahu harus bicara apa, sementara dia pun membisu. Aku meliriknya. Wajahnya datar nyaris tanpa emosi. Aku tertawa sendu dalam hati, bertanya-tanya, seperti apa rupa wajahku sekarang?

Pada waktu-waktu sebelum saat ini, ini adalah suatu rutinitas. Dia, sahabat dan orang yang paling dekat denganku, selalu mengantarku pulang ke rumah, berjalan kaki. Rumahku jaraknya tidak begitu jauh dari sekolah. Dulu, jarak yang kami tempuh serasa begitu singkat; selalu diisi dengan pembicaraan riang dan menyenangkan. Dulu, meskipun kami sudah sampai di depan rumahku, kami tetap mengobrol seolah lupa waktu. Dulu, aku selalu berharap jalan yang kami tempuh ini lebih jauh. Agar waktuku bersamanya lebih banyak. Agar aku bisa melihat wajahnya lebih lama. Agar aku bisa mendengar suaranya lebih lagi.
Sederhananya, aku hanya ingin bersamanya.

Kini, aku tak tahu.
Entah bagaimana, rumahku terasa jauh. Keheningan yang tumbuh di antara kami terasa menyakitkan. Menusuk. Langkah gontai kami yang terseret menggema, pun helaan napas berat di setiap langkah. Bahkan jantung yang berdentum di dada terasa sakit. Tidak pernah kukira keheningan terasa sememberatkan ini.


Rumahku belum nampak. Apakah kami hanya berjalan di tempat, berusaha mengulur waktu?
Ataukah ini hanya perasaanku?
Kulirik wajahnya sekali lagi. Dia sedang menoleh ke arahku.
Apa, apa yang terpancar dari sana?
Aku tidak mau mengartikan sorot matanya padaku. Kasihankah?
Prihatinkah?
Deritakah?
Kesedihankah?


Dia berhenti berjalan. Aku tidak.
Aku tidak mau!
"Anna."
Dia memanggil namaku. Mendengarnya memanggilku bahkan terasa sakit dan getir. Aku berhenti lima langkah di depannya.
Tak menyahut.

Air hujan perlahan membasahiku. Aku bisa mendengar langkahnya bergegas menyusulku.
"Anna..."
"Jangan ke sini," kataku. Bisa kudengar nada terpaksa serta putus asa dalam suaraku yang kaku. Aku bisa merasakan dia berdiri tepat di belakangku, memayungiku.
Hujan menderas, dan keheningan lagi-lagi menyelimuti kami.

"Anna," bisiknya, menarik napas, "... maaf..."

Untuk apa dia meminta maaf?

"Aku menyukainya, Anna..."

"Kalau begitu biarkan aku pergi. Jangan membuatku merasa seperti pengganggu."

"Kamu tidak boleh pergi!!!"

"Kenapa tidak?!"

"Karena--"

Ponsel berbunyi. Ponsel miliknya.
Dan aku tahu itu dari siapa.

"It's okay. Go," ujarku, letih.

Dia tidak mengangkat ponselnya, membiarkannya ribut di saku celana abu-abunya.

Hujan,
Dering ponsel,
Dentuman berisik dari jantungku bercampur riuh.

"I'll walk you home."

"She needs you."

Sunyi.

"You know she needs you. Now."

Seperti apakah ekspresinya sekarang? Ingin rasanya berbalik...

Tiba-tiba gagang besi payung itu disurukkan melewati bahuku, menggantung.

"Kamu tidak boleh pergi," bisiknya sebelum berbalik pergi, berlari kembali ke sekolah.
Kembali padanya.
Her.

Aku tidak mau tahu seperti apa tampangku sekarang, sama sekali tidak.
Kubiarkan payung itu menggeletak di pinggir jalan. Aku tidak peduli.
Aku tidak butuh.
Aku tidak perlu.
Aku lanjut berjalan pulang, dengan pikiran berkecamuk.

Dia kira dia siapa, seenaknya berbicara egois begitu??
Seenaknya saja menyuruhku tinggal, untuk apa?
Menyaksikan dia dan dia??
Lalu untuk apa dia minta maaf??


Aku tidak mau sampai ke rumah.

Biarkan aku sendirian.
Biarkan hujan membasuhku.
Menyamarkanku.
Biarkan aku sendiri dengan air mataku...

..........

Kau kejam.
Sungguh.



Kejam...







Erinda Moniaga.
February 3rd 2011

published in Facebook on Friday, February 4 2011