every word, every move, every expression has its own meaning. here I'm noting it.

Sunday, May 15, 2011

Hujan

Kami berjalan berdua di bawah payung merah miliknya di suatu siang berhujan. Tidak lebat namun cukup membuat orang menggunakan payung untuk berjalan di bawahnya. Kami berjalan dalam diam, bersisian. Apakah yang dipikirkan orang-orang yang kebetulan memperhatikan kami?

Aku tidak tahu harus bicara apa, sementara dia pun membisu. Aku meliriknya. Wajahnya datar nyaris tanpa emosi. Aku tertawa sendu dalam hati, bertanya-tanya, seperti apa rupa wajahku sekarang?

Pada waktu-waktu sebelum saat ini, ini adalah suatu rutinitas. Dia, sahabat dan orang yang paling dekat denganku, selalu mengantarku pulang ke rumah, berjalan kaki. Rumahku jaraknya tidak begitu jauh dari sekolah. Dulu, jarak yang kami tempuh serasa begitu singkat; selalu diisi dengan pembicaraan riang dan menyenangkan. Dulu, meskipun kami sudah sampai di depan rumahku, kami tetap mengobrol seolah lupa waktu. Dulu, aku selalu berharap jalan yang kami tempuh ini lebih jauh. Agar waktuku bersamanya lebih banyak. Agar aku bisa melihat wajahnya lebih lama. Agar aku bisa mendengar suaranya lebih lagi.
Sederhananya, aku hanya ingin bersamanya.

Kini, aku tak tahu.
Entah bagaimana, rumahku terasa jauh. Keheningan yang tumbuh di antara kami terasa menyakitkan. Menusuk. Langkah gontai kami yang terseret menggema, pun helaan napas berat di setiap langkah. Bahkan jantung yang berdentum di dada terasa sakit. Tidak pernah kukira keheningan terasa sememberatkan ini.


Rumahku belum nampak. Apakah kami hanya berjalan di tempat, berusaha mengulur waktu?
Ataukah ini hanya perasaanku?
Kulirik wajahnya sekali lagi. Dia sedang menoleh ke arahku.
Apa, apa yang terpancar dari sana?
Aku tidak mau mengartikan sorot matanya padaku. Kasihankah?
Prihatinkah?
Deritakah?
Kesedihankah?


Dia berhenti berjalan. Aku tidak.
Aku tidak mau!
"Anna."
Dia memanggil namaku. Mendengarnya memanggilku bahkan terasa sakit dan getir. Aku berhenti lima langkah di depannya.
Tak menyahut.

Air hujan perlahan membasahiku. Aku bisa mendengar langkahnya bergegas menyusulku.
"Anna..."
"Jangan ke sini," kataku. Bisa kudengar nada terpaksa serta putus asa dalam suaraku yang kaku. Aku bisa merasakan dia berdiri tepat di belakangku, memayungiku.
Hujan menderas, dan keheningan lagi-lagi menyelimuti kami.

"Anna," bisiknya, menarik napas, "... maaf..."

Untuk apa dia meminta maaf?

"Aku menyukainya, Anna..."

"Kalau begitu biarkan aku pergi. Jangan membuatku merasa seperti pengganggu."

"Kamu tidak boleh pergi!!!"

"Kenapa tidak?!"

"Karena--"

Ponsel berbunyi. Ponsel miliknya.
Dan aku tahu itu dari siapa.

"It's okay. Go," ujarku, letih.

Dia tidak mengangkat ponselnya, membiarkannya ribut di saku celana abu-abunya.

Hujan,
Dering ponsel,
Dentuman berisik dari jantungku bercampur riuh.

"I'll walk you home."

"She needs you."

Sunyi.

"You know she needs you. Now."

Seperti apakah ekspresinya sekarang? Ingin rasanya berbalik...

Tiba-tiba gagang besi payung itu disurukkan melewati bahuku, menggantung.

"Kamu tidak boleh pergi," bisiknya sebelum berbalik pergi, berlari kembali ke sekolah.
Kembali padanya.
Her.

Aku tidak mau tahu seperti apa tampangku sekarang, sama sekali tidak.
Kubiarkan payung itu menggeletak di pinggir jalan. Aku tidak peduli.
Aku tidak butuh.
Aku tidak perlu.
Aku lanjut berjalan pulang, dengan pikiran berkecamuk.

Dia kira dia siapa, seenaknya berbicara egois begitu??
Seenaknya saja menyuruhku tinggal, untuk apa?
Menyaksikan dia dan dia??
Lalu untuk apa dia minta maaf??


Aku tidak mau sampai ke rumah.

Biarkan aku sendirian.
Biarkan hujan membasuhku.
Menyamarkanku.
Biarkan aku sendiri dengan air mataku...

..........

Kau kejam.
Sungguh.



Kejam...







Erinda Moniaga.
February 3rd 2011

published in Facebook on Friday, February 4 2011

No comments:

Post a Comment