every word, every move, every expression has its own meaning. here I'm noting it.

Wednesday, November 30, 2011

sesak

wangimu kucium samar di balik dahaga yang menyesak
perih,
betapa perih yang mengikis ini begitu sakit.


seuntai rindu membingkai suratku,
tiada kutahu terbang ke mana,
sampaikah?
atau justru membelesak lenyap di telan samudra?


sungguh,
seutuhnya melankolia ini bukan ada karenamu,
hanya saja setitik napasmu mengusik relungku yang tersembunyi


derai-derai kalimatku takkan bermakna lagi
tidak,
sejak kuketahui bahwa seberkas tatapmu mampu membelokkan arti senyuman.


perih.


kau tahu?


aku bahkan tidak mengerti.


mengapa harus diam?
mengapa harus tersembunyi?
mengapa harus ada?


ketidakjelasan yang ada ini mengembara,
meluas,
menyerap harap


sesak.








© Erinda Moniaga, 2011
November 30 2011
7.57 pm





Sunday, November 20, 2011

kontradiktif

aku diam saja dari sini, 
menatapmu, dari belakangmu.
kau tahu tidak, ada banyak sekali hal yang ingin kutanyakan padamu.
tapi aku diam saja. 
benakku ribut, memberontak ingin bertanya.
tapi aku tetap saja diam. 
diam itu menyiksa.
siapa bilang diam itu emas?


aku tidak mengerti kamu.
satu saat kau berkata kamu tidak suka kopi.
tapi di saat lain kamu bisa berkata kopi itu enak.
satu saat kamu berkata-kata normal.
satu saat setiap kata yang keluar dari bibirmu tiada berupa fakta.


kamu tahu, aku menjulukimu manusia kontradiktif.


satu saat kamu bisa bersikap sangat menyebalkan.
di saat lain tiba-tiba saja sikapmu menjadi selembut bulu domba.
satu saat semua yang terkatakan olehmu adalah benar.
tak lama kemudian sekejap mata bisa berubah menjadi maya.


sering aku bertanya-tanya, sisi manakah dari dirimu yang nyata?


adakah kamu begitu rumit untuk dimengerti...
ataukah hanya aku yang begitu ruwet sampai tidak bisa melihatmu?




© Erinda Moniaga
20.11.2011

seminggu lalu

well, hello everyone!
kembali lagi Erinda Moniaga di sini, akhirnya dapat kesempatan juga untuk mem-posting sesuatu dalam blognya :D

Syukurlah minggu kemarin proposal skiripsiku sudah di-acc oleh dosen! Banzai! Tinggal nunggu pengumuman pembagian dosen pembimbing, sesudah itu welcome skripsi! Minggu lalu juga tes TOEFL sudah lewat, ceritanya ikut tes TOEFL itu syarat mutlak untuk bisa mengikuti skripsi. Semoga aja nilaiku naik ya dibandingin dari waktu pertama kali masuk sastra. Ngarepnya sih bisa dapet nilai di atas 570, entahlah bisa kesampean ato nggak. Semoga aja dapet ya, hehehe. Trus apalagi ya yang sudah terjadi minggu ini? Ah ya, proposal DKV 3-ku sudah dikumpul. Sungguh, bener-bener melegakan dah, sudah nggak lagi dipusingkan dan ditekan oleh kenyataan bahwa proposalnya belum jadi. Asistensinya cuma dua kali, dan aku inget banget dosennya bilang aku males, hahaha. Dia juga nanya, "Kamu itu kerjaannya ngapain aja sih? Kerja? Kuliah?"
Trus aku jawab, "Iya, saya ambil KP semester ini, Pak. Trus, iya, saya juga kuliah. Tugasnya lagi banyak banget."
Si Bapak dosen geleng-geleng kepala. Aku memang gak sebutin aku kuliah dua sama dia, buat apa? Ntar ujung-ujungnya dibilang sombong atau apa, males dah. Kenyataannya memang tugasnya lagi banyak banget kan, memang gak bohong. Sempet saking putus asanya, pernah nulis status/nge-tweet gini: 'Entah gimana nanti caraku bisa nyelesaiin semua proposal dan laporan ini nanti. Hanya Tuhan yang tahu.'
Lalu.....
AH! Selama tiga hari kemarin, dari tanggal 14-16 November 2011, secara tidak diduga aku disuruh mewakili kampus untuk mengikuti 7th APEC Future Education Forum & 9th International ALCoB Conference. Awalnya, jujur aja nih, rada-rada males ikut itu. Tapi aku pikir, apa salahnya sih sekali-sekali mau ikut? Juga acaranya di Grand Bali Beach Sanur, gak jauh-jauh amat dari rumah. Akhirnya hari Senin tanggal 14 itu, hari yang hectic sekali, aku musti ke kampus dulu nyari Pembantu Dekan 3 untuk mengurus surat keterangan ikut organisasi. Janjian sama dosennya jam sembilan, sedangkan acaranya jam setengah sepuluh sudah mulai. Setelah selesai halo-halo Bandung di telepon, minta tolong ama Bapaknya, akhirnya suratnya tinggal dibuat dan aku bisa langsung pergi ke Grand Bali Beach.
Di Bali Beach untung bisa langsung ketemu tempat konfrensinya. Aku mewakili ISI Denpasar bareng empat orang junior dari FSRD dan FSP. Dua anak DKV, satu anak Pedalangan, dan satu anak Tari. Mereka orang yang sangat menyenangkan, jadinya gampang bisa akrab :D
Para official yang mengurus acaranya banyak banget orang dai luar. Sepertinya paling banyak orang Korea. Waktu aku ngurus registrasi, si mbak penerima tamunya keceplosan ngomong sesuatu yang biasa aku denger kalo lagi nonton DVD film-film Korea. Emangnya aku gak ada muka Indonesia gitu ya, sampe diajak ngomong bahasa Korea? *mulai GR*
Di Rama Sita Room waktu itu sudah rame banget, penuh anak-anak, mulai dari bocah seumuran TK sampe anak-anak SMA, dan orang-orang dewasa dengan pakaian perlente. Aku dan keempat temanku duduk di meja agak di belakang bersama lima orang bocah-bocah. Bocah-bocah yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Kusangka mereka dari sekolah internasional di Jakarta. Salah satu dari bocah-bocah itu, yan laki-laki dan memakai name tag terbalik (kebaca WANRE), berbisik pelan-pelan, "Do you like strawberry?"
Aku lupa bahwa aku sedang berhadapan dengan anak kecil polos yang tidak mungkin punya rencana licik di balik setiap pertanyaan, aku malah memakai pola pikir yang biasa kupakai saat berhadapan dengan orang-orang asing yang baru kukenal: curiga sekaligus waspada. Sebelum menjawab pertanyaannya, aku membuat analisa sendiri di dalam hati sampai akhirnya kuputuskan untuk menjawab, "Not really. Why?"
Tampangnya menyiratkan arti semacam 'oh-geez-I-shouldn't-have-asked' dan aku mulai merasa menyesal karena sesungguhnya aku suka strawberry. Tapi tak lama kemudian, dia berbisik lagi sambil mengulurkan tangannya padaku, "For you."
Yang ada di atas telapak tangannya adalah sebutir permen jeli warna merah, yang bisa dengan segera kuketahui berasa strawberry. Aku tersenyum, menerima permen pemberiannya. Itu permen ricola, ngomong-ngomong. "Thank you."
Dia menoleh ke sampingnya, pada temannya, sambil tertawa senang. Bukankah itu manis sekali?
Tentu saja setelah itu kami mengobrol sedikit. Dia membuat beberapa gambar, gambar wajahku dan keempat temanku, di kertas yang disiapkan pihak hotel. Sambil tertawa-tawa, aku bertanya asalnya dari mana. Dijawabnya santai, "Malaysia."
Sisanya, kami menonton opening speech dari beberapa petinggi dan menteri pendidikan. Lalu ada tari-tarian Bali dan Korea. Sesudah itu ditutup makan siang.
Benar sekali, makan siang. Gratis. *gini dah, jiwa gratisan banget*
Hari kedua lebih seru lagi karena para mahasiswa dikumpulkan jadi satu dalam sebuah ruangan, di sana kami mengadakan semacam presentasi budaya khas daerah. Dari ISI Denpasar mempresentasikan gambar ornamen Bali dan Pementasan Wayang Kulit mini. Mahasiswa dari Vietnam mempresentasikan teh lotus dan semacam kue khas dari negara mereka yang namanya Com. Jajannya sih enak, dibuat dari semacam adonan tepung yang diberi warna hijau oleh dedaunan apa-gitu berisi kacang hijau. Yang tidak bisa kunikmati adalah teh lotusnya. Alamak, ampun dah, rasanya pahit. Pahit banget dan gak enak. Rasa pahitnya naik sampai ke ubun-ubun dah, sisanya tersangkut di tenggorokan. Untunglah mereka membawa semacam manisan yang isinya biji lotus. Itu membuat tehnya terasa 1% lebih baik. Aku ketika itu berpikir aku sangat membutuhkan gula. Mahasiswa Korea mengajak kami membuat semacam street food khas negara mereka yang namanya Heddok. Itu semacam pancake mini yang berasa cinnamon. Nah, kalo Heddok ini baru bisa dinikmati! Mahasiswa Indonesia yang lain, dari Saraswati, mempresentasikan masakan khas Bali dan cara membuat tipat. Terakhir, seorang mahasiswa dari Rusia bernama Maksim, mengajak kami untuk menarikan semacam tarian rakyat, folks dance begitu. Acara hari itu ditutup dengan foto-foto (teteup) dan makan siang. Lagi-lagi gratis. Tanggal 15 November itu membahagiakan sekali, asalkan stres soal laporannya tidak dihitung.
Hari terakhir hanyalah upacara penutupan. Tidak ada yang begitu spesial hari itu, biasalah, hanya pidato-pidato kecil. 
Tapi overall untuk acara ini, menyenangkan sekali bisa iikut berpartisipasi! Kapan lagi bisa ikut acara macam begini, ini kan bisa dibilang berskala internasional. Aku juga dapet ngobrol-ngobrol sama mahasiswa-mahasiswa luar. Bisa tahu seperti apa sih konferensi-konfrensi internasional. Gak ada ruginya dah aku dispensasi selama tiga hari di kampus dan tidak bisa ikut UTS DKV 3. Sungguh mengasyikkan! :D

Sekarang, setelah kedua proposal itu tidak perlu dirisaukan lagi, yang tersisa adalah laporan PKL. Dan minggu depan sudah harus dikumpul. Jumat depan tepatnya, lima hari lagi.

Mestinya yang kulakukan sekarang adalah membuat bab 3 yang isinya implementasi, tapi entah mengapa yang kulakukan adalah menulis di blog :p

jangan ditiru, kawan-kawan!

Wednesday, November 2, 2011

privyet!

Hola, everybody!
it's still me, Erinda Moniaga, who's speaking.
How's everything? I went through a kinda hard time past month.

Anyway, finally I've done my proposal comprehension test! After a long long time awaiting, I'm gonna do my thesis. It's not thesis actually since I'm still in bachelor degree, we call it 'skripsi' in Indonesia. I wish I could do my best to finish it before February. Ah, goodness, I hope I can make it, the graduation on February XD
wish me luck everyone!

now...
*switch to Indonesian*
Baru-baru ini aku sakit. Sakit gak jelas, terkapar dan meleleh selama beberapa hari di rumah, gak ada nafsu makan, gak niat buat tugas, gak niat kuliah di ISI, gak niat ngapa-ngapain, pokoknya maunya tidur aja. Gak ada semangat, gak ada hal apa gitu yang bisa membuat jiwa yang letih ini untuk bersinar kembali *uhuk*
Lalu tiba-tiba saja hari ini seorang kawanku me-retweet sebuah tweet di twitter, dan dalam sekejap tweet itu membuat saya aku kembali bersemangat!
Beritanya adalah ini: cerpenku terpilih dari sekian cerpen yang masuk di nulisbuku untuk dimasukkan dalam buku TERPANA. Nulisbuku sedang membuat event dalam rangka ulang tahun mereka yang pertama, membuat antologi berdasarkan lagu-lagu yang berbeda selama sebelas hari. Nah, aku ikutan project hari kedua, dengan theme song Terpana by Yoyo feat Andry. Dari lagu itu kita diminta untuk membuat flash fiction atau puisi. Aku membuat ceritanya kalo gak salah sekitar jam sebelas malam. Lagunya asyik sekali, jadinya mudah untuk dibuat cerita. Berikut link untuk mendownload lagunya Terpana

Kalau mau baca cerpennya, ini nih link-nya: Pernahkah?

Jadi, setelah membaca berita yang begitu menyenangkan hati tersebut, semangat langsung bangkit lagi! XD

Belakangan ini hari-hari dipenuhi dengan tugas-tugas, butuh sesuatu untuk menyemangati, tapi entah kenapa tidak ada sesuatu yang klik.

Well, hari-hari ke depan bakal lebih sulit lagi. Ada banyak proposal yang harus diselesaikan, laporan-laporan yang juga belum disentuh, dan utamanya SKRIPSI!

Ah, wish me luck, everybody!

Semoga aku bisa mendapat inspirasi untuk menulis cerita baru lagi :)

see you soon and GBU all :D

Pernahkah?



Based on song “Terpana” by Yoyo feat Andry.
to listen to the song click this link--> Terpana
it'd be better if you read this story along with listening to the song :)




Pernahkah kau merasakan sesaat ketika dunia serasa berhenti berputar dan waktu meregang, seakan-akan hitungan detik tidak lagi sama dengan hitungan detik yang biasa? Seakan-akan enam puluh detik tidak sama dengan semenit. Seolah-olah semua gerakan di bumi ini berubah menjadi slow motion, menjadikan setiap detil terpeta jelas, membuat semuanya nampak layaknya sebuah gerak tari yang luar biasa indah.   

Pernahkah?

      Itulah yang kurasakan saat ini, saat aku terpaku seperti orang dungu di tepi jalan raya, dengan satu kaki setengah melangkah akan menjejak di atas zebra cross, akibat melihatnya. 
      Seorang gadis.
      Seorang gadis yang begitu... cantik.
      Dia berdiri di seberang sana, dengan mata yang awas memperhatikan kendaraan lalu-lalang. Hanya berdiri, padahal dia hanya berdiri, dan aku terpana di sini, terpaku, membeku bersama aliran waktu. Aku melihat rambut lurusnya yang panjang sepinggang tertiup angin. Aku melihatnya berbisik pada kawannya yang turut berdiri di sisinya, siap akan menyeberang jalan. Kemudian aku melihatnya tersenyum.
      Oh, Tuhan.
      Sungguh, senyumnya menawanku.
      Detik itu juga.
      Segalanya yang terjadi di mataku adalah gerak slow motion yang begitu indah, dan dia adalah pusatnya.
      Apakah yang sedang terjadi padaku?
      Aku hanya merasa... di suatu masa, di suatu waktu... entah kapan, entah di mana, aku mengenalnya.
      Laksana déjà vu.
      Dan aku masih tetap dalam posisi setengah-setengah di pinggir jalan ini, sementara dia sudah berjalan menyeberang menuju ke tempatku. Dia terus berbicara bersama temannya selagi menyeberang jalan, bahkan tertawa-tawa. Dia terus berjalan, hingga sampai di sisi jalan tempatku berada. Dia melewatiku, mungkin bahkan tidak menyadari bahwa ada seorang lelaki idiot yang terdiam di sini, hanya karena dia.
      Gilakah aku merasa seperti ini?
      Ini kali pertama aku melihatnya dan tiba-tiba saja ada perasaan aneh dalam hatiku yang berkata bahwa aku sudah pernah bertemu dengannya. 
      Tidak hari ini. 
      Tidak kemarin. 
      Tidak juga bulan lalu.
      Tidak di masa ini.
      Tidak, tapi di kehidupan yang dulu. 
      Di suatu masa yang lampau.
      Ingin rasanya aku meminta agar waktu berhenti.
      Walau hanya sekejap.
      Walau hanya sesaat.
      Untuk berkenalan dengannya.

      Inikah yang disebut cinta pada pandangan pertama?

      Aku tersadar dari kebekuanku dan menoleh ke belakang, dan dia telah lenyap. Anehnya lagi, atau ajaibnya, aku yakin, hati kecilku yakin, aku akan bertemu lagi dengannya. Aku tidak merasa rugi atau menyesal karena tadi tidak sempat berkenalan dengannya. Ada suatu firasat indah yang berkata padaku bahwa aku pasti akan bertemu dengannya lagi. Segera. Dalam waktu dekat, sangat dekat malah.
      Hatiku terasa begitu girang, seakan-akan aku berhasil menemukan apa yang sudah begitu lama kucari.
      Pernahkah kau merasa begitu?
     
      Ah, Tuhan.
      Pertemukanlah aku dengannya sesegera mungkin.

      Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.




Erinda MoniagÓ

October 12, 2011
11.31 PM